Mencintai adalah Seni Menyakiti Diri

Cinta dan duka adalah dua sisi mata uang. Mencintai berarti harus siap dengan kemungkinan duka ketika ditinggalkan, baik karena perpisahan maupun karena kematian.

Mencintai sering kali dipahami sebagai kebahagiaan, sebuah kehangatan yang mengisi hati dengan rasa nyaman dan penuh gairah. Namun, di balik romantisme yang sering digambarkan dalam cerita-cerita indah, mencintai juga memiliki sisi lain yang lebih kelam—seni menyakiti diri sendiri.

Ketika kita mencintai seseorang, kita membuka diri sepenuhnya. Kita memberikan kepercayaan, harapan, dan bahkan sebagian dari identitas kita kepada orang lain. Ini adalah bentuk keberanian yang luar biasa, tetapi sekaligus juga menjadikan kita rentan. Saat harapan tak sejalan dengan kenyataan, atau ketika cinta tak berbalas, luka yang timbul bukan hanya sekadar perasaan sedih biasa—tetapi sebuah rasa sakit yang sulit dibayangkan.

Cinta dan duka adalah dua sisi mata uang. Mencintai berarti harus siap dengan kemungkinan duka ketika ditinggalkan, baik karena perpisahan maupun karena kematian. Saat pasangan yang kita cintai meninggal dunia, rasa kehilangan yang mendalam bisa terasa seperti bagian dari diri kita ikut menghilang. Dalam kondisi seperti ini, mencintai benar-benar menjadi seni menyakiti diri, karena rasa cinta yang begitu besar kini bertransformasi menjadi duka yang tak terhindarkan. Namun, justru dalam duka ini, kita belajar betapa berharganya setiap momen yang pernah dibagikan.

Ada banyak bentuk luka yang datang dari mencintai. Ada sakit karena kehilangan, ketika seseorang yang kita cintai harus pergi entah karena perpisahan atau kematian. Ada sakit karena pengkhianatan, ketika orang yang kita percaya justru melukai kita dengan cara yang tak pernah kita bayangkan. Ada pula sakit karena pengorbanan yang tidak dihargai, membuat kita bertanya-tanya apakah cinta yang kita berikan benar-benar layak untuk diperjuangkan.

Namun, meskipun mencintai adalah seni menyakiti diri, manusia tetap terus melakukannya. Mengapa? Karena di balik luka-luka yang mungkin datang, mencintai juga adalah seni menemukan makna. Kita belajar memahami diri sendiri, memahami batasan, dan bahkan menemukan kekuatan dalam kelembutan. Rasa sakit yang ditinggalkan cinta bukan hanya luka, tetapi juga pelajaran yang membentuk kita menjadi pribadi yang lebih matang dan bijaksana.

“Denganmu, jatuh cinta adalah sakit hati yang kusengaja.”

Tinggalkan komentar