Menikmati Indahnya Jalur Baru Cisadon-Gunung Pancar

Berkesempatan untuk menjajal jalur baru yang belum selesai Cisadon-Gunung Pancar. akses khusus ini diberikan oleh temen-temen PATAS (Pancar Trail Adventure Sentul) agar saya dapat mereview sebelum jalur dibuka kepada umum

Jalur baru ini masih berkarakter sama dengan jalur-jalur lama di sekitaran Cisadon, jalur single track dan berada di lereng, sehingga jalur ini cukup butuh konsentrasi tinggi. tetapi yang membedakan dengan karakter jalur Cisadon yang lain adalah tanahnya bukan tanah hitam seperti kebanyakan jalur cisadon tetapi tanah lempung yang cukup licin apabila diguyur hujan.

Jalur sepanjang -/+ 8 km ini masih selesai 80%, sehingga memang jalur ini belum bisa dilewati umum. nah hari itu sisa 20% kami melewati jalur lama. ternyata kondisi jalur lama lebih sulit selain ilalang yang sudah tinggi juga jalur cukup licin karena sudah jarang dilewati. dan yang perlu hati-hati jalur lama ini single track yang sisi samping kanannya adalah jurang yang sudah tertutup semak-semak. apabila hilang konsentrasi motor bisa terperosok.

Jalur disini masuk kategori medium hard, karena tektur tanah yang licin, jalur single track dengan tikungan tajam yang cukup banyak. apabila tidak konsentrasi offroader bisa masuk jurang karena tergelincir atau terlalu over power saat di tikungan. selain tikungan tajam jalur disini masih rawan longsor, sehingga kawan-kawan PATAS banyak membuat tanggul2 batu disini jalur agar jalur lebih kuat saat dilewati oleh banyak motor.

Jalur Cisadon-Gunung Pancar kategori jalur lembab sehingga kondisi jalur akan selalu basah meskipun cuaca panas, dengan kondisi jalur yang selalu basah membuat jalur ini memiliki tingkat kesulitan yang hard tetapi kondisi yang teduh membuat jalur ini selalu teduh dan adem.

Untuk keindahan alamnya, jangan diragukan lagi. jalur ini berada di ketinggian di atas 1000mdpl sehingga view dijalur cukup indah. ada spot sepanjang 300 meter yang indah dengan pemandangan city view dan pegunungan berbaris-baris. Nah untuk keindahan alamnya cukup bikin betah berlama-lama dijalur ini

Nah saya tidak mau bercerita lebih banyak lagi, agar offroader yang penasaran jalur ini. tapi yang pasti jalurnya cukup syahdu dan menguras keringat, juga keindahan alamnya membuat kita ketagihan untuk kembali, dan kembali lagi dijalur ini

Terima kasih Pak Ketua PATAS dan kawan-kawan PATAS yang sudah mengijinkan saya untuk menjajal jalur baru ini sebelum launching

Iklan

Sesekali Kita Harus Mencoba Menunduk Sejenak

Beberapa bulan Indonesia seperti terpecah dua kubu, hal ini karena pandangan politik yang berbeda. selain itu banyak “kompor” dan “Biang Onar” untuk memecah belah bangsa ini. dan misi mereka ternyata sukses. di Sosial media terlihat antar warga indonesia saling hujat. tetapi banyak juga yang menyikapi lebih dewasa dan melakukan aksi yang lebih terhormat. Perbedaan pandangan ini akhirnya merembet ke generasi muda kita seperti kisah anak-anak yang tidak boleh berkawan karena beda keyakinan. ah sedih sekali.

Awalnya saya juga merasa bagian dari salah satu kubu itu, mulai menilai, menganalisa dan ikut serta dalam memberikan pandangan pemikiran saya. bisa jadi si kubu A yang benar, atau bisa jadi kubu B yang benar. ah, semakin coba saya pikirkan, energi yang saya keluarkan semakin banyak, saya mulai memilih teman, saya mulai unfollow teman di social media yang tidak sesuai dengan pemikiran saya. tapi memang sebenarnya dengan adanya 2 kubu ini, saya juga banyak belajar bahwa beberapa orang terlahir menjadi manusia yang mudah terprovokasi dan mudah menyalahkan orang lain. beruntung saya selalu diajarkan selalu belajar berfikir objektif, memiliki holicopter view dalam memikirkan sesuatu sehingga kadang melihat teman yang sudah mulai merasa pintar dan benar. lebih baik saya diam.

Tetapi semakin kedepan, kegaduhan semakin menjadi, semua orang merasa paling benar, semua orang merasa paling tahu politik. dan saya merasa juga sudah terlalu banyak mengeluarkan energi disini, sampai akhirnya tersadar. Bahwa yang menjadikan kita semua seperti ini adalah urusan besar yang tidak semudah membalik telapak tangan. kita terlalu banyak memikirkan urusan-urusan besar dan lupa untuk hal kecil yang sebenarnya hal ini yang harus diselesaikan terlebih dahulu.

Tulisan ini saya buat untuk mengajak seluruh saudara saya di tanah air untuk sejenak menundukkan kepala dan melihat saudara-saudara kita yang ada dibawah sana. setelah beberapa hari melakukan perjalanan adventure sendiri dipelosok gunung. perkampungan dikaki gunung. mereka sangat jauh dari gaya hidup masyarakat ibukota.

Anak-anak disana jangankan mendapatkan prestasi di sekolah, untuk mau masuk sekolah atau rajin bersekolah saja sudah hal yang bagus, hal ini saya lihat karena mereka lebih memilih untuk mencari uang di jalur adventure. kenapa ini bisa terjadi. karena mereka tidak tahu apa fungsi sekolah itu sendiri. nah buat kita yang terdidik ayo mulai peduli, dengan langkah nyata. kalian bisa mengunjungi mereka dan memebrikan pengarahan kepada mereka dan membantu mereka menjadi anak yang memiliki cita-cita dalam hidupnya

Selain kondisi anak-anak yang tidak antusias sekolah, saya pernah menemukan sebuah desa yang diisi oleh 6KK dan desa itu hanya berjarak 50km dari Jakarta. di Desa itu anak-anaknya harus menempuh jalan 10km untuk dapat sekolah. atau mungkin anak-anak disana tidak sekolah. nah alangkah baiknya kita coba menunduk sebentar dan mencoba peduli kepada mereka, tunjukkan langkah nyata dengan mencoba menjadi guru di desa itu. dan yang miris di desa yang hanya berjarak 50km dari Jakarta ini belum dialiri listrik oleh PLN, mereka membuat listrik dari tenaga air yang terdapat di danau desa mereka.

Jadi Pesan saya. ayo mari kita mulai mencoba menunduk sebentar, menjadikan saudara-saudara di NKRI minimal merasakan kebahagiaan yang kita dapat. Urusan Negara biarkan berjalan sesuai apa yang sudah digariskan Tuhan, energi kita sudah hampir habis untuk mengurusi urusan para petinggi negara. saatnya kita yang hanya rakyat jelata ini, bahu membahu sendiri untuk membantu saudara kita yang masih kekurangan.

 

Sayup-sayup terdengar roda kereta menggiling kerikil, makin lama makin jauh, akhirnya tak terdengar lagi. Annelies dalam pelayaran ke negeri di mana Sri Ratu Wilhelmina bertahta. Kami menundukkan kepala di belakang pintu.

“Kita kalah, Ma,” bisik Minke.

Nyai Ontosoroh menjawab, “Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Pramoedya Ananta Toer – Bumi Manusia

 

 

Catatan #Waniperih36

TKI & TKW: Hanya dianggap Remahan Peyek Oleh Pemerintah dan Bangsa Sendiri

Beberapa tahun lalu sempat menulis tentang informasi kehilangan Ibu saya, pencarian secara offline dan online juga saya lakukan. tahun 2012 saya mulai melakukan pencarian secara offline, berkunjung ke Kuala Lumpur, mampir ke Kedutaan dan mencari informasi tentang beliau, tapi memang tidak ada data yang tertera disana. lalu setiap malam di tahun yang sama saya juga mencoba mencari informasi secara online di http://ktkln.bnp2tki.go.id/searchtki.asp memang nama Ibu saya tidak pernah ada.

Wiwik Purwati
pencarian secara online

Pencarian online dan offline sudah sering saya lakukan, terhitung sejak kunjungan pertama tahun 2012, akhirnya setiap tahun saya jadwalkan rutin untuk pergi ke Malaysia. Mulai dari Kuala Lumpur, Selangor sampai Penang saya kunjungi untuk blusukan di area para TKI Indonesia Berkumpul. Saya juga dibantu seorang teman di Kuala Lumpur seorang pensiunan Polisi Diraja Malaysia. tetapi hasilnya tetap nihil. Hingga sekarang pun saya dibantu oleh petinggi Facebook Indonesia untuk melakukan pencarian Ibu saya melalui Facebook ads.

Tetapi selama pencarian itu, akhirnya saya tahu dan paham Bahwa Pemerintah tidak terlalu dengan TKI, itu kesimpulan subjektif yang saya terima.

Komentar dari orang yang pernah saya temui juga bermacam-macam, mulai dari orang Indonesia yang menjadi TKI, Agen TKI, Pemerintah di BN2TKI atau pun orang Malaysia sendiri.

Mereka memiliki informasi dan ungkapan yang sama,

“Susah mencari TKI yang sudah tidak ada kabar, apalagi TKI itu Ilegal”

mereka selalu membuat kehilangan keluarga itu hal yang biasa dan ngga perlu didramatisir, mereka selalu bilang itu adalah hal biasa. Banyak TKI di Indonesia yang hilang atau tak diketahui keberadaannya, sehingga semangat untuk mencari itu tidak ada, mereka merasa hal itu sangat sulit untuk dilakukan.

Hal ini membuat saya sangat miris, bayangkan 500 ribu TKI di Malaysia ini adalah seorang Bapak/Ibu yang meninggalkan keluarganya untuk mengadu nasib. mereka berani mengambil resiko kehilangan keluarga di negeri orang.

Dengan Tulisan ini saya berharap baik pemerintah, Media dan orang-orang yang punya Hati Nurani untuk berani meng-angkat isu ini, karena akan banyak keluarga yang tercerai berai. Mungkin Harapan ibu saya untuk ditemukan sangat kecil, tetapi jangan sampai hal yang terjadi kepada saya ini terjadi kepada keluarga lain, atau saudara-saudara kita. 

 

Manusia Kesetanan dengan Pikiran untuk Menilai dan Menghakimi

Dasar dari penulisan ini hanya ingin berbagi, karena kisah ini sangat menginspirasi saya dan membuat saya lebih bijak dalam memandang sesuatu, Menilai ataupun menghakimi kejadian dan urusan pada orang lain. jadi saya akan ceritakan sedikit kisah “Orang Tua Miskin dan Kuda Putih Cantik” Cerita ini di ambil dari Buku “Snack for the Soul” karya A. Puryan Blitzer.

Ilustrasi: Nenek
Ilustrasi: Nenek

Jadi dahulu kala ada seorang nenek tua yang miskin dan memiliki seekor kuda putih yang cantik, karena sangat cantiknya sehingga Raja pun ingin membeli kuda itu dengan harga yang sangat tinggi, tetapi karena saking sayangnya dengan kuda itu sehingga nenek itu tidak menjual kuda putih itu. Pada suatu hari ternyata kuda putih itu di curi orang. lalu orang desa berdatangan

“Wahai orang Tua Bodoh” kudamu sudah dicuri orang, padahal kalau kamu jual kamu akan mendapatkan uang banyak dan kamu akan kaya dengan keluargamu. tapi kuda itu sekarang sudah hilang, kamu dikutuk oleh kemalangan.

Nenek itu menjawab: “Jangan bicara terlalu cepat, katakan saja bahwa kuda itu tidak ada di kandang, itu saja yang kita tahu, selebihnya adalah penilaian. Apakah saya dikutuk atau tidak, bagaimana kamu dapat mengetahui itu? bagaimana kamu dapat menghakimi?”

Orang Orang desa itu protes “Jangan menggambarkan kami orang bodoh. Fakta sederhana bahwa kudamu hilang adalah kutukan”

Nenek itu menjawab lagi: Yang saya tahu bahwa kandang itu kosong, apakah itu kutukan atau berkat, saya tidak dapat katakan. yang dapat kita lihat hanyalah sepotong saja. kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti.

Orang-Orang Desa tertawa dan mengatakan nenek tua itu bodoh, kalo dia jual kuda itu pasti dia akan hidup kaya-raya. setelah 15 hari, kuda itu kembali. Ternyata kuda itu tidak dicuri tetapi lepas dan lari ke hutan. tidak hanya kembali tetapi kuda itu juga membawa selusin kuda liar dari hutan yang ikut bersamanya. mengetahui hal itu orang desa kemabli ketempat Nenek tua itu.

“Orang tua, anda benar dan kami salah. yang kami anggap kutukan sebenarnya berkat. maafkan kami”

Namun, apa jawaban nenek tua itu?

“Sekali lagi kalian bertindak gegabah. katakan saja bahwa kuda itu sudah balik. katakan saja selusin kuda balik bersamanya, tetapi jangan menilai. bagaimana kalian tahu bahwa ini berkat? kalian hanya melihat sepotong saja. kecuali kalau kalian sudah mengetahui seluruh cerita”

Orang-Orang desa tidak banyak berkata-kata lagi, tetapi dalam hati mereka bahwa orang tua itu salah, dengan menjinakkan 12 kuda itu lalu dijual maka nenek tua itu akan menjadi banyak uang.

Orang Tua itu mempunyai anak laki-laki, dan anak laki-laki itu mulai menjinakkan kuda-kuda liar itu. setelah beberapa hari, ia terjatuh dari salah satu kuda dan kedua kakinya patah.

Sekali lagi berkumpuk di sekitar orang tua itu dan menilai. “Engkau benar, orang tua” kata mereka “engkau sudah membuktikan bahwa perkataanmu memang benar. selusin kuda itu bukan berkat. Mereka adalah kutukan.satu-satunya puteramu telah patah kedua kakinya dan sekarang dalam usia tuamu kamu tidak punya siapa-siapa untuk membantumu. Sekarang kamu lebih miskin lagi.

Nenek tua itu berbicara lagi

“Ya, Kalian kesetanan dengan pikiran untuk menilai dan menghakimi. jangan keterlaluan. katakan saja bahwa anakku patah kaki. Siapa yang tahu itu berkat atau kutukan? Tidak ada yang tahu. Kita hanya mempunyai sepotong cerita, Hidup ini adalah sepotong-sepotong”

Maka, terjadilah 2 minggu kemudian negeri itu berperang dengan negeri tetangga. Semua anak muda di desa diminta untuk menjadi tentara. Hanya anak si orang tua yang tidak diminta karena patah kaki. Sekali lagi orang-orang desa berkumpul sekitar orang tua itu sambil menangis dan berteriak karena anak-anak mereka sudah dipanggil untuk bertempur. Sedikit sekali kemungkinan mereka akan kembali.

“Engkau benar orang tua” Mereka menangis, “Tuhan tahu, Engkau benar. Ini buktinya. Kecelakaan anakmu merupakan berkat. kakinya patah, tetapi paling tidak ada bersamamu. Anak-anak kami pergi untuk selama-lamanya”

Orang tua itu berbicara lagi,

“Susah sekali berbicara dengan kalian. kalian selalu menarik kesimpulan. Padahal tidak ada yang tahu kejadian seutuhnya. Katakan saja anak-anak kalian pergi berperang dan anak saya tidak. Tidak ada yang tahu apakah berkat dan kutukan. Tidak ada yang cukup bijaksana untuk mengatahui. Hanya Tuhan yang tahu.

Cerita diatas adalah salah satu cerita favorit saya, cerita diatas mengajarkan kita untuk tidak terlalu cepat menilai dan menghakimi. karena hal diatas sangat rentan di dunia digital khususnya Social Media. kalo kata gaulnya Nyinyir. Banyak orang yang menilai hanya dari sepotong kejadian, 1 tweet atau dari 1 berita di sebuah media. kita langsung menilai dan menghakimi, mengeluarkan kata-kata yang tidak layak. semoga tulisan saya dapat bermanfaat untuk kita semua. Saya tidak berniat untuk mengajari tetapi dengan tulisan ini saya hanya ingin berbagi kebaikan yang tidak seberapa ini … hehehehe

Salam @AgungpumA

Indonesia Krisis Toleransi, Debat Kusir Tumbuh Subur di Era Digital

Era Internet dan Sosial Media dan pertumbuhannya beberapa tahun terakhir cukup tinggi di Indonesia, dari media kompas, pengguna internet di Indonesia di tahun 2016 mencapai 132 juta.  Bandingkan dengan negara tetangga Malaysia yang jumlah penduduknya 31 juta, atau Negara Arab Saudi yang jumlah penduduknya juga 31 juta. berarti pengguna internet di Indonesia adalah 4x dari jumlah penduduk Malaysia atau Arab Saudi di 2016.

Ilustrasi foto
Ilustrasi foto

Banyak hal positif yang dapat digali dengan era internet ini, informasi dengan sangat mudak diakses, sebagai contoh data jumlah penduduk dan pengguna internet ini dengan mudahnya ditemukan saat saya mencari di mesin pencarian Google. Tetapi banyak juga di salah gunakan oleh berbagai pihak. kita akui era internet ini menjadikan semua orang menjadi media. mereka bisa mengabarkan informasi. sehingga dimana informasi yang dipercaya diakui sebagai kebenaran. nah informasi ini yang berbahaya. kita suka menelan mentah-mentah informasi tanpa kroscek kebenarannya. sehingga muncullah perdebatan dengan bahan yang berasal dari sumber-sumber yang belum tahu kebenarannya. atau bermodal isi tulisan yang dipercayainya atau sesuai keinginan nya.

Kenapa dalam judul saya tulis sebagai “Debat Kusir” hal ini disebabkan banyak orang dan masing-masing kubu klaim kebenaran adalah pihak mereka. Sebenarnya merasa benar sendiri tidak masalah, asalkan kebenaran itu tidak dipaksakan dengan pihak lain. Sekarang yang terjadi adalah banyak orang merasa benar dan memaksakan kebenaran yang diyakininya untuk di yakini juga oleh orang lain.

Menurut saya Pribadi di era sekarang tidak ada kebenaran yang mutlak, mengingat semua yang kita lakukan pasti ada dampak kepada diri kita atau orang lain. sehingga akhirnya sesuatu yang kita lakukan kadang benar tetapi salah. atau sesuatu yang salah tetapi sebenarnya benar.

Sebagai Contoh: Saat kita mengikuti mengantar jenazah dijalan raya menggunakan motor misalnya, mengantar Jenazah adalah sesuatu yang benar, tetapi saat mengganggu pengguna lain dan kita menggunakan helm saat mengantar jenazah itu adalah salah. Nah hal ini mungkin kita bisa renungkan.

Nah dari kasus diatas banyak para pengantar jenazah itu merasa paling benar sehingga yang lain salah. padahal jelas menutup jalan dengan urakan dan memaki pengguna lain yang menutupi jalan itu jelas salah.

Dan fenomena sekarang, banyak orang berdebat menggunakan dasar dari informasi yang hanya dipercaya. dan yang paling menarik adalah perdebatan apakah Bumi itu Bulat atau Datar. Saya lihat beberapa orang yang percaya itu menggunakan dalil masing-masing yang menurut mereka sumber itu benar. tetapi mereka tidak mencoba menggali sendiri.

Alasan saya menulis ini karena banyak terjadi orang membagi informasi yang belum tentu kebenarannya dan mereka menggunakan itu untuk menyalahkan kelompok lain. Sehingga akhirnya keegoisan didahulukan, orang lain abaikan. Hal ini sudah banyak saya temukan di beberapa kejadian yang saya alami, atau hal-hal test toleransi yang saya lempar di sosial media.

Harapan saya, mulai sekarang, ayo mulai banyak membaca dan mulai menelaah sesuatu dengan dalam, sebelum menghakimi bahwa ini benar atau salah. dan yang pasti jangan lupa kerja yang benar biar ngga pusing kalo ngga punya duit.

jangansampaimenyalahkan orang lain, laludateng ke orang itumintatolongdibantukarenalaginggapunyaduit. itu kan jadikonyol.