Liputan di klik Hati

Meski aksi sosial pendampingan dan pemberdayaan anak-anak jalanan sudah banyak dilakukan, tapi masih tersisa stigma negatif yang melekat pada anak-anak itu. Karena penampilan dan pola hidupnya, anak-anak jalanan masih dinilai sebagian orang sebagai kumpulan yang terbuang : liar, kumuh, tidak berpendidikan, kriminal, dan tidak jelas masa depannya.

Anggapan itu tentu keliru. Anak-anak jalanan juga punya hak yang sama dengan anak-anak lain termasuk hak untuk maju berikut potensinya. Dengan kemauan kuat dan usaha keras, banyak anak jalanan yang sukses bahkan melebihi anak-anak umum lainnya. Agung Setiawan, salah satu contoh kisah sukses anak jalanan. Mentas dari jalanan, kini dia menjadi praktisi digital marketing yang tekun.

Di tahun 1990-an saat masih di Sekolah Menengah Pertama, Agung menjalani kerasnya jalanan di kota asalnya, Blitar, Jawa Timur. Dia harus bekerja di jalanan untuk menutup biaya pendidikan. Orang tuanya tak mampu. Kegiatannya mencari uang beragam, dari mengamen, jaga parkir, sampai berjualan. Dari Blitar, pengelanaannya berlanjut ke Jakarta. Untuk menyambung hidup, dia kembali mengais rezeki dari jalanan. Sekitar dua tahun dia berkeliaran di seputar Pasar Seni Ancol.

Didorong tekad kuat untuk maju, Agung belajar internet. Awalnya main-main jejaring sosial, lama-lama membuat dan mengelola website pribadi. Dia nge-blog. Posting-postingnya terutama seputar marketing, dari ilmu berdagang yang dijalaninya di jalanan.

Rezeki tak kemana. Dari pengalamannya, dia mendapat kesempatan menjadi tenaga pemasaran sebuah brand minuman kemasan. Semangat dan kemauan belajar yang tinggi membuahkan kesempatan lebih bagus. Dalam kurun tujuh tahun, kariernya terus melesat, dari awalnya penjaga stand, sales, sampai dipercaya menangani digital marketing. “Dari pengalaman di jalan sama nge-blog,” tuturnya.

Kini Agung sedang berancang-ancang lompat ke perusahaan telekomunikasi dengan posisi dan tanggung jawab yang lebih tinggi. Dia pun berniat melanjutkan jenjang pendidikan lebih tinggi. “Pingin kuliah agar standarnya lebih tinggi,” katanya.

Belajar dari pengalaman pribadi, Agung menuntut penilaian lebih baik terhadap anak-anak jalanan. “Bukan sampah masyarakat kok, bisa maju juga,” katanya. Langkah awal apresiasi yang bisa dilakukan adalah menghapus sebutan anak jalanan. “Itu sudah satu stigma negatif,” katanya. Dia mengusulkan sebutan lain yakni ‘generasi mandiri’ yang terdengar lebih menghargai dan mendorong semangat.

Usulan Agung soal istilah itu adalah salah satu alat untuk memberi dukungan ke anak jalanan. Poin yang lebih mendasar adalah niat dan aksi sosial untuk memberi dukungan itu sendiri. Untung sebagian kalangan masyarakat sudah ter-Klik Hati-nya untuk memberi dukungan tersebut, komunitas Sahabat Anak salah satunya. Sahabat Anak yang sedikitnya sudah 13 tahun konsisten mendampingi dan memberdayakan anak-anak jalanan urban itu adalah salah satu penerima Klik Hati Award.

#Klik Hati adalah program sosial PT Merck Tbk, perusahaan farmasi dan kimia, yang memberikan apresiasi untuk gerakan sosial berbasis sosial media. Program ini bertujuan menggali inspirasi gerakan sosial dan mendorong kepedulian yang lebih luas agar aksi-aksi sosial kemanusiaan semakin marak. Tahap awal program adalah pemberian Klik Hati Award dan Aksi Klik Hati. Ke depannya Klik Hati akan memfasilitasi pertukaran gagasan dan pengetahuan untuk mewujudkan kepedulian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s